Fotosintesis dalam Perspektif Al-Qur’an

Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini dengan sangat terencana. Matahari dalam pandangan sains merupakan sumber energi utama untuk mendukung kehidupan. Manusia mendapatkan energi untuk hidup dari matahari secara tidak langsung melalui tumbuhan atau hewan lain. Tumbuhan berklorofil menghasilkan makanannya sendiri melalui proses fotosintesis dengan bantuan energi dari matahari. Energi dari matahari tersebut disimpan dalam senyawa-senyawa organik yang merupakan sumber makanan bagi makhluk hidup lain.
Allah SWT berfirman dalam QS.Yasin ayat 79-80:

 
Artinya: {79} Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkanya ialah (Allah) yang menciptakanya pertama kali. Dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk. {80} Yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu."(QS. Yasin: 79-80)1
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki pengetahuan yang Maha Luas terhadap makhluknya. Di dalam ayat tersebut mengandung kata ”Allah yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau”. Kita dapat berpikir bahwa di dalam pohon terdapat suatu zat yang berwarna hijau yang berperan dalam pertumbuhan pohon tersebut sehingga menghasilkan kayu. Kemudian dengan kayu yang hijau itu pula maka api dapat menyala. Proses dalam tumbuhan yang melibatkan zat hijau daun (klorofil) disebut proses fotosintesis. Melalui proses inilah tumbuhan menghasilkan makananya sendiri untuk keperluan pertumbuhanya, sehingga dapat dihasilkan ranting-ranting dan dahan yang dapat dijadikan sebagai kayu bakar.
Tanaman fotosintetik menangkap energi surya dalam bentuk ATP dan NADPH yang dipergunakan sebagai sumber energi untuk membuat karbohidrat dan komponen sel organik lainya dari karbon dioksida dan air. Bersamaan dengan itu, organisme tersebut membebaskan oksigen ke dalam atmosfer. Sementara itu makhluk heterotrof aerobik, memperoleh energi dengan cara mempergunakan oksigen yang dibentuk untuk menguraikan produk senyawa-senyawa organik berenergi tinggi hasil fotosintesis menjadi CO2 dan H2O. Karbon dioksida yang dibentuk oleh respirasi pada heterotrof kembali ke atmosfer, untuk digunakan kembali oleh organisme fotosintetik.2
Zat hijau daun memiliki kloroplas yang di dalamnya berlangsung proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari yang menghasilkan oksigen. Proses pembakaran tidak akan berlangsung tanpa adanya oksigen. Sehingga kita dapat berpikir ayat ini secara tersirat menunjukkan bahwa tumbuhan memerlukan zat hijau (kloroplas) untuk dapat menghasilkan kayu dan oksigen. Sehingga kita dapat menyalakan api dari kayu tersebut.
Percobaan yang pernah dilakukan oleh Ingen Housz, memperagakan bahwa hanya bagian-bagian hijau tumbuhan yang melepaskan oksigen selama fotosintesis. Struktur tumbuhan yang tidak hijau, seperti misalnya batang berkayu, akar, bungan dan buah, sebenarnya menggunakan oksigen dalam proses respirasi. Hal ini menandakan bahwa fotosintesis hanya dapat terus berlangsung jika ada pigmen hijau yaitu klorofil. Struktur molekul klorofil diketahui, yakni merupakan senyawa kompleks yang terdiri atas porfirin yang sama strukturnya dengan pofirinheme yang membentuk gugus prostetik pada hemoglobin, mioglobin, dan enzim-enzim sitokrom. Perbedaan-perbedaan utama antara klorofil dan heme ialah adanya atom magnesium (sebagai pengganti besi) di tengah-tengah cincin porfirin dan rantai samping hidrokarbon yang panjang, yaitu rantai fitol.3

Ada dua macam klorofil pada tumbuhan yaitu klorofil a dan klorofil b. Perbedaan kecil antara struktur kedua klorofil itu tampak pada gambar di atas. Di dalam sel, keduanya terikat pada protein. Baik klorofik a maupun klorofil b paling kuat menyerap cahaya di bagian merah dan ungu spektrum sinar. Cahaya hijau yang paling sedikit diserap. Karena itu bila cahaya putih menyinari struktur-struktur yang mengandung klorofil seperti misalnya daun maka sinar hijau yang dikirimkan akan dipantulkan, dan hasilnya ialah struktur-struktur tersebut tampak berwarna hijau.4
Referensi:
1] Dr. Ahmad Hatta, MA. 2009. Tafsir Qur’an Per Kata Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul & Terjemah. Jakarta: Maghfirah Pustaka. Hlm 445.
2] Albert L. Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Hlm 349.
3] John W. Kimbal. 1983. Biologi Umum Jilid 1 Edisi 5. Jakarta: Erlangga. Hlm 173-175.
4] Ibid, hlm 173-175.


Popular Posts